
Ilustrasi
Bangun haruslah pagi. Kalau tidak bangun pagi, setidaknya malam sudah harus bekerja. Soalnya kalau tidak dikerjakan malam-malam ataupun pagi pagi sekali, staff datang lantai belum beres disapu atau dipel. Itulah kerja seorang Office Boy. Pekerjaan yang mulia sekali. Tapi kadang dipandang sebelah mata, atau bahkan dianggap pekerjaan yang rendah. Bagi saya itu adalah pekerjaan yang menjanjikan pahala kalau dijalani penuh ikhlas, dan kita harus bisa menghargai pribadinya. Bathin adalah kuncinya.Mari kita telusuri lebih jauh, kenapa saya bilang seperti itu?
Bisa dilihat di lingkungan kerja, staff OB begitu terlihat capai. Dan memang saya yakin itu capai sekali. Setelah selesai kerjaan satu datang lagi pekerjaan yang lain. Satu meminta bantuan, satu lagi minta bantuan yang lain. Seandainya tidak capai, niscaya tidak bisa berhenti aktifitasnya. Belum tugas keluar kantor dan lain-lain. Seperti contoh ringannya, mengantar surat-surat atau proposal kantor. Ketika teman-teman bisa istirahat ketika jam makan siang, dia harus mondar-mandir dari warung satu kewarung yang lainnya. Titipan makanan begitu menumpuk. Satu minta dibelikan makanan ini yang duapuluh lebih kewarung yang berbeda. Menu makannya beda-beda lagi. Dan sebagian staff enaknya nitip saja. Dan kadang staff juga kurang perduli, OB juga manusia dan mempunyai rasa lapar juga. Kembalian seribu masih diambil juga, apalagi memberikan satu bungkus makan siang buatnya. Jangan berfikir itu sudah bagian dari tugasnya. Tapi berfikirlah, kalau bisa beli dan berangkat sendiri, baiknya berangkat sendirilah. Ya iseng-iseng refresing makan diluar sambil menghilangkan jenuh seharian dikantor. Itu juga bagian amal yang harus kita manfaatkan. Kalau dilihat dari struktur kepegawaian, sama-sama staff. Boss atau direktur bolehlah.
Duapuluh empat jam mungkin bisa dibilang seperti itu jam kerjanya. Karena malamnya harus menginap dikantor untuk jaga lokasi (bagi yang tinggal dikantor). Begitu tidak bosankah dia dengan aktifitas hariannya? Hanya pribadi yang mengerti dan ikhlaslah yang bisa mengerti bahasa ini. Ternyata begitu capainya seorang Office Boy.
Dan itu aku pernah merasakannya…..dan kelihatannya rasa itu sama….dan inilah sepenggal cerita dari web tetangga:
Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana seorang direktur.
Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari
anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa pensiun dari
perusahaan tersebut.
Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan
dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih
dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut,
yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy
yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.
Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut, “Y ang
terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata
“tolong”, setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah
tanggung jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah
mengucapkan “maaf”, saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha
memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin
saya merubahnya menjadi kebaikan.
Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan “terima kasih”
kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk
Bapak.Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang
kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan
sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan
dikecilkan. Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya.
Terima kasih sekali lagi. Semoga Tuhan meridhoi jalan dimanapun Pak
Direktur berada. Amin.”
Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk
tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap
genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mengetahui ungkapan hati
seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan
seluruh isi kantor.
Pak Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan
yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan
biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti
si office boy tersebut. Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena
seluruh isi kantor itu setuju dan sepakat bahwa keteladanan dan
kepemimpinan Pak Direktur akan mereka teruskan sebagai budaya di
perusahaan itu.
Teringat sikap dan pribadi Pak RUSMANTO direktur LP3T Nurul Fikri ketika saya menjadi OB