Sebuah gambaran

Sebuah gambaran

Sekian tahun aku berumah tangga, banyak sekali keinginan dan harapan. Terutama mempunyai tempat tinggal sendiri atau yang biasa kita kenal RUMAH. Yang hidup dikontrakan, ingin cepat-cepat tidak ngontrak. Yang masih numpang kepada mertua, ingin cepat-cepat lepas dari bayang-bayangnya. Kalau saya pribadi masih rumah kontrak. Mau membuat rumah dananya belum cukup, mau ikut creditan masih bimbang. Karena belum tahu mau menetap dimana, kampung atau kota. Tapi pastinya kalau saya ada rizki dan bisa mendirikan bangunan untuk tempat tinggal, harapannya ingin mempunyai rumah yang nyaman, yang tidak begitu besar.
Saya jadi teringat ketika berlibur ke pantai Anyer. Disana kami sekelurga disediakan cottage atau mungkin Villa yang bagi saya lumayan nyaman. Dan itu jugalah yang jadi inspirasi kalau saya mempunyai rumah tidaklah begitu besar. Villa itu ada dua kamar. Tapi saya ingin membuat tiga kamar. Satu ruang tamu dan dapur dibelakang, terpisah. Toilet dan kamar mandi didalam, tidak dibelakang seperti rumah kebanyakan di kampung. Letak toilet dan kamar mandi persis didepan kamar, nah yang ini buat kamar pribadi. Supaya tidak jauh-jauh kebelakang apabila harus ke kamar mandi Toilet. Sedangkan untuk satu toilet disamping ruang tamu. Apabila ada tamu dan meski numpang ke toilet, tidak harus masuk-masuk kedalam. Dan toilet ini akan disetting sedemikian rupa, sehingga nyaman dilihat dari luar dan dijamin baunya tidak menyebar keluar juga. Toilet duduk tentunya. Pintu yang dibuat juga bukan pintu toilet, tapi seperti pintu kamar tidur, biar tidak ada kesan kalau itu adalah toilet.
Itu adalah sebuah harapan. Mudah-mudahan semua bisa terlaksana dengan baik, tentunya dari hasil rizki yang halal dan berkah. Rumah megah hasil nyatut atau korupsi buat apa. Doakan ya…mungil tapi nyaman…

Ilustrasi

Ilustrasi

Sensitif. Mudah tersinggung. Mudah terpengaruh. Betulkah. Setidaknya itulah yang terjadi. Kritik dan saran yang tidak menyenangkan memang sulit sekali diterima. Apalagi yang dianggap merendahkan martabat sebagai manusia, itu katanya. Apalagi yang dikritik atau diberi saran adalah orang yang pendidikannya tinggi, dan yang mengkritik pendidikannya jauh dibawahnya. Menganggap semua yang ada pada dirinya sudah betul adanya. Bukankah memang betul, kejelekan atau kekurangan itu yang bisa melihat adalah orang lain. Kita tidak akan pernah bisa melihat ada kotoran di punggung kita, tapi orang lain yang akan melihat, dan mereka akan bilang” pak/bu, itu ada tahi kebo di punggung”. Apa kita lantas serta merta marah-marah ke orang yang memberi tahu, tanpa harus meraba kepunggung terlebih dahulu sebelum berkomentar sok jagoan. Kalau kita marah-marah dan setelah itu baru meraba, dan tahi kebo itu ada, apa tidak malu kita, malulah. Bukannya berterima kasih di ingatkan malah marah-marah. Andaikan juga memang hanya ada kotoran sedikit, jawablah dengan bijak sebagai orang yang berpendidikan tinggi. Dan itu saya rasa lebih bijak ketimbang merespon dengan nada tinggi, selalu membenarkan diri, keluar angkuhnya, seakan diri sendiri hebat dan sebagainya.

term-kp-rambutan2Tidak seperti biasanya memang pagi-pagi sehabis shalat subuh saya tidak tidur lagi. Biasanya tidur sampai jam delapan, mandi dan berangkat ke Jakarta. Ya pagi-pagi saya harus segera berangkat, mengingat perjalanan yang bakal saya tempuh tidak seperti biasanya. Purwakarta ke terminal kampung Rambutan, dilanjutkan ke Slipi dan diteruskan ke Intercon Plaza Jakarta Barat. Setelah mandi dan menyeruput kopi panas yang dibuatkan istri saya cabut dari Istana sekitar jam tujuh pagi. Setelah menunggu sekitar limabelas menit, akhirnya bus Warga Baru AC melintas. Tidak bakalan lewat cawang neh bus, gumamku. Penumpang tidak begitu padat, malah saya dapat bangku kosong sendirian. Baru didaerah Sadang ada penumpang yang duduk disebelahku. Jarak Purwakarta-Rambutan tertempuh sekitar dua jaman. Sampai terminal Rambutan, mobil sepi banget. Yang tujuan grogol gak kunjung kelihatan batang hidungnya. Hampir setengah jam saya menunggu, ada bus PPD yang lewat slipi, lalu saya naik. Panas. Pedagang bersliweran menjajakan dagangannya. Dan tidak lupa pengamen mengiri hembusan angin yang sudah berubah rasa. Sekitar lima belas menit ngetem, bus sudah mulai berjalan pelan-pelan. Tiba-tiba ada seseorang yang mendekatiku. (lagi…)

Ilustrasi

Ilustrasi

Pulang dari kantor dibelahan Jakarta Barat jam empat lewat lima menit. Tadinya temen saya yang namanya Hendra Sasmita mau lewat Pondok Indah untuk pulang ke Depok. Karena aku mau nebeng untuk pulang ke Purwakarta, akhirnya dibelain lewat senayan mentok kalibata. Macetnya tidak ketulungan. Pinggang sampai pegel.Dan saya turun disana. Saya lanjutkan naik metromini 64 Pasar Minggu-Uki. Sampai pintu tol cawang kok sepi pedagang, sepi mobil dan banyak orang.
Ada polisi yang mengumumkan lewat pengeras suara kalau bus lintas kota tidak lewat Cawang. Tapi langsung lewat terminal Rambutan. Ya Alloh, hari sudah sore, tidak ada mobil. Hampir saja saya memutuskan untuk tidak jadi pulang ke Purwakarta, minimal balik ke kerjaan yang di Mampang. Tapi terbayang istri sudah masak dan lain-lain. “pulang kemana pak?saya dikejutkan oleh suara laki-laki tegap dan tinggi.
Purwakarta pak, bapak mau kemana?jawabku sembari bertanya.
Bandung, kita naik taksi saja berdua kerambutan pak, biar irit ongkos”kata bapak itu. Tanpa ba-bi-bu saya mengiyakan.
Didalam taksi supir taksi agak bingung, kok di dalam taksi malah saling tanya dan kenalan. Tanpa diminta saya jelaskan kenapa bisa naik taksi dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal. Ternyata namanya Abdul Azizi, kerja dibagian intelijen. Walau sempat salah jalan supir taksi, mungkin karena banyak ngobrol, akhirnya sampai juga dirambutan. Setelah shalat maghrib, bayar patungan taksi, saya langsung mencari mobil yang kepurwakarta. Sedang pak Abdul Aziz minta ijin makan dahulu. Disitu kita berpisah. Sampai Purwakarta jam sembilan malam yang biasanya jam tujuh atau setengah delapan malam sudah sampai. Tapi..perjalan yang menyenangkan.

Ilustrasi

Ilustrasi

Bangun haruslah pagi. Kalau tidak bangun pagi, setidaknya malam sudah harus bekerja. Soalnya kalau tidak dikerjakan malam-malam ataupun pagi pagi sekali, staff datang lantai belum beres disapu atau dipel. Itulah kerja seorang Office Boy. Pekerjaan yang mulia sekali. Tapi kadang dipandang sebelah mata, atau bahkan dianggap pekerjaan yang rendah. Bagi saya itu adalah pekerjaan yang menjanjikan pahala kalau dijalani penuh ikhlas, dan kita harus bisa menghargai pribadinya. Bathin adalah kuncinya.Mari kita telusuri lebih jauh, kenapa saya bilang seperti itu?
Bisa dilihat di lingkungan kerja, staff OB begitu terlihat capai. Dan memang saya yakin itu capai sekali. Setelah selesai kerjaan satu datang lagi pekerjaan yang lain. Satu meminta bantuan, satu lagi minta bantuan yang lain. Seandainya tidak capai, niscaya tidak bisa berhenti aktifitasnya. Belum tugas keluar kantor dan lain-lain. Seperti contoh ringannya, mengantar surat-surat atau proposal kantor. Ketika teman-teman bisa istirahat ketika jam makan siang, dia harus mondar-mandir dari warung satu kewarung yang lainnya. Titipan makanan begitu menumpuk. Satu minta dibelikan makanan ini yang duapuluh lebih kewarung yang berbeda. Menu makannya beda-beda lagi. Dan sebagian staff enaknya nitip saja. Dan kadang staff juga kurang perduli, OB juga manusia dan mempunyai rasa lapar juga. Kembalian seribu masih diambil juga, apalagi memberikan satu bungkus makan siang buatnya. Jangan berfikir itu sudah bagian dari tugasnya. Tapi berfikirlah, kalau bisa beli dan berangkat sendiri, baiknya berangkat sendirilah. Ya iseng-iseng refresing makan diluar sambil menghilangkan jenuh seharian dikantor. Itu juga bagian amal yang harus kita manfaatkan. Kalau dilihat dari struktur kepegawaian, sama-sama staff. Boss atau direktur bolehlah.
Duapuluh empat jam mungkin bisa dibilang seperti itu jam kerjanya. Karena malamnya harus menginap dikantor untuk jaga lokasi (bagi yang tinggal dikantor). Begitu tidak bosankah dia dengan aktifitas hariannya? Hanya pribadi yang mengerti dan ikhlaslah yang bisa mengerti bahasa ini. Ternyata begitu capainya seorang Office Boy.
Dan itu aku pernah merasakannya…..dan kelihatannya rasa itu sama….dan inilah sepenggal cerita dari web tetangga:
Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana seorang direktur.
Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari
anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa pensiun dari
perusahaan tersebut.

Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan
dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih
dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut,
yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy
yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.

Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut, “Y ang
terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata
“tolong”, setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah
tanggung jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah
mengucapkan “maaf”, saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha
memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin
saya merubahnya menjadi kebaikan.

Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan “terima kasih”
kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk
Bapak.Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang
kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan
sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan
dikecilkan. Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya.
Terima kasih sekali lagi. Semoga Tuhan meridhoi jalan dimanapun Pak
Direktur berada. Amin.”

Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk
tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap
genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mengetahui ungkapan hati
seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan
seluruh isi kantor.

Pak Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan
yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan
biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti
si office boy tersebut. Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena
seluruh isi kantor itu setuju dan sepakat bahwa keteladanan dan
kepemimpinan Pak Direktur akan mereka teruskan sebagai budaya di
perusahaan itu.
Teringat sikap dan pribadi Pak RUSMANTO direktur LP3T Nurul Fikri ketika saya menjadi OB

togaBukan karena ada kesempatan, aku ingin maju dan berkembang. Tapi karena tuntutan kehidupan yang membuat aku tidak ingin ditinggalkan. Mungkin itulah yang membuat tekad hatiku bulat untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Bangunan persegi empat itu sedang aku rindukan kembali, setelah sekian tahun aku tinggalkan. Kompetensi jaman sekarang sangatlah penting, makanya saya mencoba untuk mengambil jurusan Teknik Informatika di LP3T Nurul Fikri Jakarta Selatan. (lagi…)

Ibuku

Ibuku

Senja ini hampir tenggelam, aku masih setia menemani sepi. Bayang-bayang insan-insan yang aku cintai, menjadi inspirasi setiap letupan harapan dalam jiwaku. Mereka jauh, tidak setiap menit dapat aku tatap, tidak setiap detik dapat aku buai. Ibuku….rautmu begitu lekat dikelopak mataku, tidak bisa terlupakan. Setiap kerut yang terlukis diwajahmu, ingin aku usap penuh pengabdian. Seandainya dunia ini aku yang mengatur, engkau akan aku jadikan ratu kehidupanku. Karena engkau adalah rembulanku, rembulan yang selalu sejuk menyinari kelamnya hatiku ketika sedang gundah. Karena restu dan do’amu, anakmu bisa seperti yang sekarang engkau lihat. Ibu, anakmu tidak akan mencoba untuk mengecewakanmu. (lagi…)

Ilustrasi

Ilustrasi

Ayah..! sandal begini masih ayah pakai?gumam istriku ketika mendapati sandal yang aku pakai warnanya beda, dan merknya juga beda. Padahal sandal jepit itu senantiasa menemaniku pulang pergi Jakarta dan Purwakarta. Dan aku tidak pernah risau dengan sandal giceng/selen itu. Aku teringat sandal jepit itu tadinya tidak giceng, tapi karena ketukar dimasjid waktu dipakai teman jadi giceng. Memang masjid itu terkenal sering ada sandal hilang atau ketukar, dan ketukarnya jadi tambah jelek. Ketukar baru seh enak kali ya.. (lagi…)

Ilustrasi

Ilustrasi

Setiap aku mau pulang, senantiasa saku celana ada uang recehan. Entah itu ratusan atau limaratusan. Maklum sepanjang perjalanan antara Jakarta dan Purwakarta, banyak sekali pengamen yang menjual suaranya. Mulai strat naik kopaja 57 dari Mampang sampai purwakarta ataupun dari Purwakarta sampai Mampang lagi kira-kira tujuh pengamen aku jumpai. Mereka punya gaya tersendiri. Tapi bagiku apapun gaya mereka, entah sopan, entah kalem mereka berhak atas uang receh yang ada disaku celanaku.
Setiap aku amati, sebagian penumpang lebih cenderung memberi kepada pengamen yang bergaya preman. Lihat saja rambutnya gimbal dan panjang, kupingnya dikasih besi melingkar, dan tentu tidak ketinggalan, hiasan tato menempel ditubuhnya. Dengan gaya yang begitu, entah merasa takut atau tidak, banyak penumpang yang merogoh sakunya untuk nyemplungin recehan atau ribuan. Lain halnya ketika saya melihat dua pemuda yang mengamen. Penampilannya rapi, bajunya bersih, topi yang dikenakannya bersih dan tentu saja aksesoris seperti diatas dia tidak punya. Bahasa yang ia gunakan juga sopan, mendoakan lagi. Tapi apa yang saya lihat?sebagian penumpang seakan tidak peduli. Mereka tidak mau merogoh koceknya. Mungkin karena kecewa atau apa, pengamen sopan itu berucap”pak, bu (ibu maksudnya), kalau tidak pada mau ngasih, mbok yo jangan semuanya”.
Kepribadian orang Indonesiakah?tidak tahulah kawan. Mungkin pengamen-pengamen itu sebenarnya wataknya baik semua. Tapi karena realita yang ia jumpai seperti itu, mungkin ia harus merubah karakternya. Dengan gaya galak sedikit, tampang menakutkan, kantong plastiknya laksana sulap yang bisa mendatangkan duit dalam sekejap. Sedang kalau dengan cara sopan, banyak yang tidak memberi. Saya hanya berpesan, jangan lupa recehan bila ada bepergian, siapapun bentuk pengamen itu, cemplungkan walau hanya duaratusan dikantong mereka.

Astaghfirullohal’adzim…

Ilustrasi

Ilustrasi

Aku terkejut ketika mengetahui camera digital dalam almari tidak ada satu. Iyah, karena dalam almari ada dua camera, yang satu punya temanku yang pinjem ketemennya juga. Padahal rencana malam itu juga mau saya kembalikan. Kenapa orang yang masuk tidak mengambil dua-duanya?mungkin satunya lagi dikira tempat cameranya. Karena memang posisi camera satu ada tempatnya yang satu tidak. nah yang diambil yang tidak ada tempatnya, dan itu punya temanku.
Saya teringat siang itu akan pulang ke Purwakarta. Saya dapati pintu diatas tempat aku numpang tidur terbuka keduanya. Karena memang pintunya ada dua. Saya tidak tahu siapa yang lupa habis main keatas turunnya tidak ditutup kembali. Mungkinkah ada orang yang masuk?yang jelas camera serta setrika sudah tidak ada ditempatnya. Untung TV serta komputer teman yang nitip tidak diembat juga. Dan camera punya saya sendiri masih ada. Alloh masih menyayangiku. Tapi kenapa bukan camera saya saja yang diambil?biar saya tidak repot-repot menggantinya?ternyata disana banyak cerita dan pengetahuan yang bisa dipetik. Menurut pribadiku ada beberapa pengetahuan yang terjadi. Apa itu?

  • EFEK ADA PADA ORANG LAIN
  • Karena perbuatan atau kelalaian seseorang, manusia lain yang akan menerima imbasnya. Seperti halnya yang saya alami. Karena ada teman yang lupa menutup pintu dak atas, menyebabkan orang yang tidak bertanggung jawab masuk. Imbasnya camera digital serta setrika lenyap. Jadi kita harus menyadari karena perbuatan kita yang tidak kurang baik, itu merugikan orang lain. Contoh, karena iseng kita ndupak atau nendang batu, sehingga batu itu teronggok ditengah jalan dan menyebabkan pengendara sepeda motor jatuh terpeleset karena batu itu tadi. Jadi temenku yang lupa, aku yang menerima efeknya, karena kebetUlan barang-barangnya yang hilang punya saya

  • BELAJAR BERTANGGUNG JAWAB
  • Walapaun camera yang hilang adalah Canon Powershot A400, saya harus bertanggung jawab mengembalikan dalam bentuk Camera juga. Sudah saya mencari type seperti itu, tidak ada toko yang menjualnya. Demi sebuah tanggung jawab, saya ganti camera dengan Canon Powershot A470. Dan harganya pastinya lumayan, satujuta seratus duapuluhribu rupiah. Dan type itulah yang ada paling saya rasa pantas sebagai gantinya.

  • SEJAUH MANA KECINTAAN PADA MATERI
  • Sudah dua bulan saya tidak memberikan materi cukup untuk keluarga. Kebutuhan bulan Maret 2009 banyak. Malah harus download uang dari bank untuk kekurangan jatah makan di jakarta. Secara tidak langsung gaji tidak mengalir ketangan istri. Karena untuk keperluan kondangan dll di kampung Madureso. Saya sangat beruntung punya istri yang begitu mengerti kondisi suaminya. Saya ceritakan apa yang terjadi. Istri menyarankan saya download dari bank untuk menggantinya. Iya sayang, Insya Alloh suatu hari nanti pasti ada gantinya. Entah itu diganti dengan kesehatan atau yang lainnya. Terima kasih istriku….

  • BELAJAR IKHLAS
  • Di sini saya bisa mengambil pelajaran. Lebih baik saya kedepankan rasa ikhlas, ketimbang menyalahkan satu dengan yang lain.Toh, semua ini adalah sudah jadi perjalanan takdirku, saya meski menerima. Bukankah dibalik kejadian ada hikmahnya?dan saya yakin hikmah yang ada selalu baik dari Alloh buat hambaNya.
    Dan lain-lain…

    Halaman Berikutnya »